Sumber : Harian Umum KOMPAS 17 Desember 2007 Rubrik Bisnis dan Keuangan
Oleh STEFANUS OSA TRIYATNA
Elang : Mana Rumah untuk Si Miskin ?
Keserakahan sebagian besar pemilik modal di negeri ini sudah tidak terbendung lagi. Rumah untuk si miskin diujung perbukitan yang jauh dari keramaian kota, bahkan boleh dibilang rumah terpencil, yang kini mendapat subsidi pemerintah pun sangat diminati konglomerat. Alasannya hanya satu kata, "investasi" masa depan.
Padahal, kalau dipikir-pikir, tidak mungkinlah seorang berpenghasilan besar yang biasa harta bakal melirik rumah mungil di pedesaan terpencil.
"Kalau keserakahan terus yang terjadi di negeri ini, kapan jutaan orang miskin bakal
memiliki rumah?" tanya Elang Gumilang (22), peraih penghargaan Wirausaha Muda Mandiri (WMM) terbaik 2007, yang diselenggarakan Bank Mandiri.
Kegelisahan itu diungkapkan Elang di sepanjang perjalanan dari kampusnya, Institut Pertanian Bogor (IPB), menuju proyek rumah sederhana sehat (RSH) di Ciampea, Kabupaten Bogor, Jum'at(14/12) sore.
Elang adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan H Enceh dan Hj Priyanti. Tubuh kecil lelaki kelahiran Bogor, 6 April 1985 itu terlihat energik mengamati struktur bangunan rumah-rumah mungilnya.
Bukan hanya gerak tubuhnya yang lincah, cara bercakap Elang pun sangat cepat. Di tengah hujan lebat, Elang mengisahkan berbagai perjalanan jatuh bangun kehidupannya merintis usaha properti kecil-kecilan ini.
"Ini usaha kecil-kecilan karena sebetulnya saya memiliki impian besar, bagaimana orang-orang muda seperti saya ini bangkit bersama membangun negeri ini," ujar Elang.
Bagaikan burung
Semangat entrepeneurship atau kewirausahaan seakan tercermin dari perjalanan hidup Elang. Bagaikan burung yang selalu ingin terbang mengepakkan sayapnya setinggi mungkin, Elang tak pernah melupakan untuk melihat Bumi.
Bagi Elang, seluruh perjalanan hidupnya yang dibilang sukses meniti karier saat masa studinya yang hampir rampung di Fakultas Ekonomi Manajemen IPB hanyalah kebetulan belaka.
Semangat kewirausahaan itu ternyata sudah dimulai sejak masa sekolah menengah umum (SMU). Tahun 2000, sambil menikmati masa-masa indah sekolahnya, Elang sudah berpikir untuk bisa memiliki uang dari hasil jerih payahnya sendiri.
Diam-diam Elang berkeliling menjadi penjaja kue donat dan roti. Lumayan juga, setiap hari dia bisa mengantongi setidaknya Rp. 50.000.
Setiap hari 10 boks donat, masing-masing berisi 12 buah, dan beberapa roti dibawa ke sekolah untuk ditawarkan ke teman-temannya. Namun, kegiatan iseng-iseng itu tanpa disangka akhirnya ketahuan orangtuanya. Kemarahan orangtuanya tidak membuat Elang berkecil hati. Semangat kewirausahaan itu seakan mendesak untuk terus direalisasikan.
Secara kebetulan, begitulah Elang berulang kali menyebut perjalanan hidupnya, prestasinya yang gemilang membuat kemenangan-kemenangan diraih.
Kemenangan yang diraih Elang, antara lain, juara pidato bahasa Sunda se-Kota Bogor tahun 2000, juara harapan pertama Lomba Cepat Tepat Sri Baduga se-Jawa Barat, dan kemenangan yang tak pernah dilupakannya adalah juara Java Economics FEM IPB se-Jawa 2003.
Lumayan juga semua kemenangan ini karena setiap kemenangan selalu bernilai rupiah yang cukup membuatnya semangat. Elang pun menjadikan uang itu sebagai modal untuk kuliah.
Bahkan, sebagian uang itu digunakan Elang untuk modal berjualan sepatu. Namun, usaha ini hampir membuatnya habis-habisan karena dia hampir saja tertipu jutaan rupiah.
Semakin dewasa bertumbuh, Elang semakin mengubah arah tujuannya. Di masa-masa kuliah, Elang bukan hanya berpikir bagaimana bisa menghidupi dirinya sendiri, tetapi mulai mengajak rekan-rekan sekampusnya untuk sama-sama merebut kesuksesan.
Sekali lagi, menurut Elang, semua ini serba kebetulan. Alhasil, gagasan-gagasan kewirausahaannya pun mudah diterima rekan-rekan sekampusnya. Selain bisnis properti kecil-kecilan, mulailah dia merintis usaha kursus bahasa Inggris di lingkungan sekitar kampus IPB.
Elang pun tanpa sungkan mengisahkan dirinya pernah menjadi pemasok lampu di kampusnya. Modalnya cuma daftar harga yang diperoleh dari salah satu pabrik lampu terkenal.
Kerja dengan otot mungkin lebih banyak digunakan daripada dengan otak. Begitulah Elang ketika mengisahkan masa-masa kuliahnya yang sebagian digunakan untuk berjualan minyak goreng. Puluhan jeriken dicuci bersih, diisi minyak goreng curah, lalu dikirim ke Pasar Anyar dan Cimanggu, Bogor.
"Tapi bagi saya, yang paling unik tetaplah merintis pembangunan rumah untuk rakyat miskin," tegas Elang.
Awalnya diremehkan
Deretan rumah mungil yang didirikannya bersama lima temannya itu sebenarnya diperuntukkan bagi keluarga-keluarga miskin, terutama warga di sekitar perkampungan itu.
Subsidi dari Kementrian Negara Perumahan Rakyat membuat rumah seluas 22 meter yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi dapat ditawarkan cuma Rp 25 juta dan Rp 37 juta per setiap unit.
"Murah banget, tetapi lucunya orang-orang kota juga sangat berminat terhadap rumah-rumah ini, bahkan tahap awal pembangunan 45 rumah sudah habis terjual," ujar Elang.
Susahnya berurusan dengan bank dirasakan pula oleh Elang. Sebagai mahasiswa biasa, perbankan tampaknya enggan memberikan bantuan modal. Padahal, prospek usahanya diyakini sangat jelas, rumah selalu saja ada permintaannya.
"Itulah nasib orang muda. Mereka sulit diberi kesempatan untuk merintis sesuatu yang dinilai mulia. Orang bank bilang, lebih baik kami kasih modal ke tukang gorengan daripada ke mahasiswa," kata Elang, menirukan ucapan seorang staf sebuah bank.
Tak ada rotan, akarpun jadi. Tanpa kenal menyerah, akhirnya Elang mengajak patungan teman-temannya. hasilnya, dengan modal Rp 340 juta, mereka merintis pembangunan rumah sehat sederhana.
Sekali lagi, rumah-rumah yang dibangunnya itu mendapat dukungan subsidi dari pemerintah karena fokus perhatiannya adalah untuk si miskin berpenghasilan rendah.
"Kita bisa menjadi pengusaha sejati kalau bisa dipercaya oleh rekan terdekat kita. Karena itu, tanpa bantuan perbankan, usahanya mulai beralih menjadi semacam perusahaan terbuka. Modalnya, ya siapa yang mau ikutan patungan, ya silahkan saja. Keuntungannya pasti bisa dibicarakan," ujar Elang.
Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu, modalnya diputar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri. Belakangan ini Elang justru dijuluki "Juragan RSS" ala Bogor oleh penduduk setempat.
Menurut Elang, andaikan semua orang muda mau bergerak memikirkan kebutuhan masyarakat miskin, tentu di negeri ini akan banyak tumbuh wirausaha muda. Yang pasti, lapangan pekerjaan pun akan semakin terbuka lebar.
Siapa yang akan peduli lagi?
Komentar Warta Tinular
Elang Gumilang merupakan contoh generasi muda yang tidak pantang menyerah dan tidak mudah mengeluh. Selain menjadikan proyek rumah murah sebagai bisnisnya, dia juga secara tidak langsung ikut membantu kepemilikian rumah bagi warga kurang mampu.
Bandingkan dengan kebanyakan lulusan Perguruan Tinggi Negeri, Swasta maupun para Akademia yang saat ini mengeluhkan sekaligus mengkambinghitamkan kurangnya lapangan kerja ;-)
Sangat banyak sekali para lulusan Perguruan Tinggi yang secara teknis hanya pandai dalam teori namun NOL BESAR dalam praktiknya, Dunia Kerja sendiripun banyak yang mengeluhkan para tenaga kerja mereka yang baru saja lulus Perguruan Tinggi kebanyakan tidak siap pakai.
Sudah saatnya para generasi muda bangkit, berusaha mandiri dan tidak tergantung lapangan kerja yang ada. Bukankah para pemilik-pemilik perusahaan yang mapan itu saat ini, dulunya juga memulai dari bawah ?
Bagaimana ada lapangan kerja kalau tidak ada seorangpun yang berinisiatif berwirausaha.
Elang Gumilang merupakan salah satu contoh Entrepreneur muda yang sukses berjalan dari bawah. Saya yakin di Indonesia ini masih banyak Elang Gumilang lainnya walaupun tidak terekspos oleh media.
So ? bagaimana generasi muda ? Mari Berwirausaha !! :-D
Sabtu, Desember 22, 2007
Sosok Pengusaha, Elang : Mana Rumah untuk Si Miskin ?
di
09.09
2
komentar
Jumat, Desember 14, 2007
Jangan Mudah Tergiur Investasi
Harian Umum KOMPAS 11 Desember 2007
Jangan Mudah Tergiur Investasi
Penyebaran Melalui Sistem Pemasaran Bertingkat
SEMARANG, KOMPAS - Masyarakat diminta untuk tak mudah tergiur dengan berbagai investasi yang menawarkan keuntungan jauh lebih tinggi dari tingkat suku bunga bank. Ini disebabkan, penipuan berkedok investasi yang terkadang lintas daerah juga terus merebak di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.
Soal ini mengemuka dalam seminar "Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum dalam Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi", Senin (10/12), di Semarang. Seminar ini menampilkan pembicara dari Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Pengelolaan Investasi.
Kepala Biro Hukum Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Departemen Perdagangan Pater Y Angwarmasse mengatakan perkembangan penipuan berkedok investasi membuat otorita berkompeten bergabung untuk mengantisipasi hal ini dan melibatkan
Bank Indonesia pihak-pihak terkait.
Hanya saja, satuan tugas ini masih terpusat di Jakarta dan baru akan turun ke daerah bila ada pengaduan dari masyarakat. Dia Mengaku belum ada rencana untuk membentuk satuan tugas di tingkat Provinsi.
Kepala Biro Pengelolaan Investasi Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Djoko Hendratto mengakui, dalam pengawasan penyalahgunaan penghimpunan dana masyarakat, tak bisa bersifat sentralistik. Oleh karena itu, dia meminta berbagai asosiasi turut membantu. Selain itu, kepolisian dan Bank Indonesia di tingkat daerah juga harus turut mengawasi.
TEMPAT MEWAH
Menurut Penyidik Madya Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Ajun Komisaris Besar CH Patoppoi, perusahaan investasi ilegal cenderung menyebarluaskan program investasinya melalui sistem pemasaran bertingkat dan menjanjikan keuntungan tak wajar. Mereka juga kerap menyelenggarakan acara promosi di tempat mewah.
Dalam Penanganan, Patoppoi menyesalkan adanya hambatan, seperti masyarakat cenderung baru melapor bila sudah dirugikan atau pembayaran keuntungan macet. Dia juga menghimbau masyarakat untuk melaporkan penawaran produk investasi tidak legal atau
mencurigakan.
di
08.39
0
komentar
Label: Jogya - JATENG, Keuangan
Lowongan Kerja Berkedok Gaji dan Komisi Besar
BERIKUT INI ADALAH SALAH SATU SURAT PEMBACA DI HARIAN KOMPAS 11 DESEMBER 2007 TENTANG IKLAN LOWONGAN KERJA DATA ENTRY YANG SEDANG MARAK :
Lowongan Kerja Berkedok Gaji dan Komisi Besar
Hati-hati terhadap lowongan kerja data entry dari PT GFB yang ada dalam iklan baris di media cetak. Iklan yang dimuat setiap hari sejak sekitar September 2007 dan sampai saya menulis surat ini 15 November 2007, iklan itu masih ada. Ada lebih dari satu iklan lowongan data entry setiap hari dengan nomor kontak dan besaran
gaji berbeda-beda, tapi ternyata pemasang adalah perusahaan pialang berjangka yang sama.
Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang melamar untuk posisi data entry paruh waktu di perusahaan tersebut dengan harapan memperoleh penghasilan tambahan. Namun, yang didapat hanya kerugian waktu, tenaga dan biaya transpor.
Saya mengikuti pelatihan bersama para pelamar lain selama tiga hari tentang investasi berjangka, keuntungan, dan melakukan simulasi transaksi indeks.
Setelah pelatihan selesai posisi yang ditawarkan ternyata adalah business executive untuk mencari minimal satu account/nasabah, dengan minimum investasi sekian puluh ribu dollar AS dan dengan iming-iming gaji dan komisi besar. Posisi data entry yang ditawarkan di awal hanya sebagai kedok belaka.
Cukup banyak pelamar yang izin tidak masuk kerja, bahkan ada yang rela dipotong gaji atau menggunakan izin sakit agar tidak dipotong gajinya demi mengikuti pelatihan dengan harapan memperoleh penghasilan tambahan sebagai data entry.
Apa yang dilakukan perusahaan tersebut sangat tidak beretika dan menjurus kepada penipuan. Waspada terhadap iklan lowongan kerja dari perusahaan tersebut, agar tidak semakin banyak pencari kerja yang tertipu serta rugi waktu, tenaga, dan biaya seperti yang saya dan banyak pelamar lain alami.
Sari
Margahayu, Bekasi
di
08.39
1 komentar