
Sumber : CHIP 12/2007
Sebuah berita beredar luas di seluruh dunia. Dikabarkan bahwa para peneliti dari US Air Force Research Laboratory telah mengembangkan sebuah baterai Betavoltaik yang dapat "menghidupi"
sebuah notebook selama 30 tahun. Menurut berbagai media, baterai ini bakal diproduksi massal 3 tahun lagi.
Memang, Betavoltaik ini sebenarnya ada. teknologi ini mengandalkan bahan radioaktif Isotop sebagai sumber energi. Radioaktif ini memancarkan partikel Beta saat terjadi peluruhan yang kemudian
ditangkap oleh lapisan semikonduktor di sekitarnya dan diubah menjadi listrik. Cara kerja ini sama dengan sollar collector. Hanya saja, teknik ini menggunakan Photon untuk menghasilkan energi.
Betavoltaik sebenarnya sudah dikenal sejak 50 tahun yang lalu sebagai "Direct Energy Convertion" (DEC). Teknologi baterai baru yang ada dibaliknya diharapkan bakal membuat revolusi dalam dunia
komputer. Namun, website dari US Air Force Research Laboratory tidak memberikan informasi apa-apa mengenai teknologi ini.
Boleh jadi, kabar ini hanyalah rumor. Pada kenyataannya, simpanan energi dalam Betavoltaik tidaklah besar dan untuk menghasilkan Isotop membutuhkan biaya yang sangat besar. jadi, teknologi ini hanya untuk aplikasi khusus, seperti alat bantu pacu jantung.
Komentar Tinular Walks :
Wah untunglah blom beredar luas..... :- jangan2 kalo beredar luas, suatu saat bisa dimanfaatkan teroris buat bikin bom Nuklir mini nih, yang bisa masuk saku baju :-D hiii syeremmm..
Senin, Desember 31, 2007
Betavoltaik - Baterai Nuklir
di
12.49
2
komentar
Label: Internasional, Teknologi
Selasa, Desember 18, 2007
http://my-indonesia.info - Situs web 17,5 Milyar ?
Sumber : Harian Umum KOMPAS 17 Desember 2007 Rubrik TEROPONG
Kita semua berlomba untuk mengembangkan situs web, memanfaatkan jaringan internet untuk berbagai keperluan. Dari institusi pemerintahan sampai individu, situs web menjadi dunia tersendiri untuk memperluas berbagai kepentingan secara virtual.
Yang menarik dari pengembangan web adalah biaya ekonominya yang tidak memiliki standar patokan tertentu, berbeda dengan dunia nyata yang semuanya memiliki harga yang pasti. Di jaringan internet, standar harga yang diberlakukan adalah dari nol rupiah sampai tidak terhingga.
Karena itu, ketika terungkap Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengeluarkan biaya
Rp 17,5 miliar untuk membangun situsnya, kita pun "melongo" melihat angka tersebut.
Jumlah ini antara lain untuk pengembangan situs Rp 2 miliar tahun 2006, kemudian
Rp 5,5 miliar tahun 2007, dan tahun 2008 dipersiapkan Rp 10 miliar.
Semua anggaran ini diambil dari APBN. Persoalannya, karena dana ini diambil dari APBN, besaran biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan situs web perlu dipertanyakan. Walaupun tidak ada patokan pasti berapa besar biaya sebuah situs web, karena menyangkut penggunaan uang rakyat, situs yang dikembangkan di my-indonesia.info itu harus jelas pemakaiannya.
Kita pun penasaran apa yang menyebabkan situs ini menjadi mahal, lebih mahal ketimbang punya Presiden RI di www.presidensby.info yang biaya pembuatannya diperkirakan mencapai Rp 84 juta. Apakah teknologi yang digunakannya sangat canggih, misalnya memiliki sistem anti-hacking dan cracking yang terbaik di dunia?
Kita mendukung berbagai upaya mempromosikan Indonesia agar wisatawan mancanegara datang, belanja, dan menginap di Tanah Air kita yang indah ini. Tapi, rasanya pengeluaran sebesar Rp 17,5 miliar ini tidak sepadan dengan upaya untuk mendatangkan wisatawan dengan menjaring di situs web.
Kenapa ? karena situs web Rp 17,5 miliar ini minim isinya, dan tidak interaktif memudahkan wisatawan untuk melancong ke Indonesia. Ketika kita ingin berkunjung ke suatu negara, ada dua hal penting yang kita ingin segera tahu, berapa harga kamar hotel berbintang dan jadwal penerbangan yang tersedia.
Sayangnya, informasi ini tidak tersedia di situs Rp 17,5 miliar tersebut. Tidak heran, banyak orang yang mempertanyakan dengan biaya sebesar itu, yang berasal dari uang rakyat, berapa besar sebenarnya penghasilan yang bisa didapat dari mendatangkan wisatawan ke negeri tercinta ini.
Komentar warta tinular :
Hmm... saya termasuk yang bertanya-tanya, digunakan untuk apa
saja uang sebesar itu ? Rp 17,5 miliar untuk membangun sebuah situs pariwisata.
Apa untuk membiayai tim ekspedisi ke tiap daerah di Indonesia + hunting foto + informasi hotel, transportasi, makan & minum, serta yang berkaitan dengan pariwisata di masing-masing daerah tersebut ?
Setelah saya melihat, rasanya kok ya memang masih minim dan ga sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan (Saya orang Desain Komunikasi Visual + Hardware Freaks/Techie, so ngertilah dikit2 mengenai hal semacam ini).
di
07.52
2
komentar